antibiotik merupakan salah satu komponen penting dalam dunia kedokteran
Antibiotikmerupakan salah satu komponen penting dalam dunia kedokteran - 50077536 Rifanasilva6650 Rifanasilva6650 13 menit yang lalu Ujian Nasional Sekolah Menengah Atas terjawab Antibiotik merupakan salah satu komponen penting dalam dunia kedokteran soenarno398 soenarno398 Jawaban: antibiotik merupakan salah satu komponen penting
Adabanyak asumsi yang beredar di masyarakat seputar antibiotik. Salah satunya, antibiotik yang diresepkan dokter harus dihabiskan. Hal tersebut terungkap dalam dikusi kesehatan bertema "Mengenal Bakteri dan Risikonya Terhadap Kesehatan" persembahan Kalbe Farma di Jakarta Selatan, pekan ini.
Meningitismerupakan penyakit infeksi dengan angka kematian berkisar antara 18-40% dan angka kecacatan 30-50%. Bakteri penyebab meningitis ditemukan di seluruh dunia, dengan angka kejadian penyakit yang bervariasi. Di Indonesia, dilaporkan bahwa Haemophilus influenzae tipe B ditemukan pada 33% diantara kasus meningitis.
utamaflagela pada bakteri adalah sebagai alat untuk pergerakan. 2) Mikrofibril: Fimbria dan Pili Seks (A dhesin, Lektin, Evasin, dan Aggressin) Fimbria merupakan mikrofibril serupa rambut
Beberapaantibiotik termasuk tetrasiklin, yang biasanya digunakan untuk mengobati jerawat, infeksi pernapasan, dan kondisi lainnya. Maka fungsi antibiotik ini adalah menghambat sintesis protein. Antibiotik ini membantu mencegah molekul ribosom mensintesis protein. Jika tanpa protein, bakteri tidak dapat melakukan fungsi vital, termasuk
Site De Rencontre Serieux Gratuit Sans Inscription.
ArticlePDF Available AbstractLatar belakang Penggunaan antibiotika sebagai terapi dasar dalam penyakit infeksi harus dilakukan secara bijak dan rasional. Penggunaan antibiotika yang rasional adalah penggunaan antibiotika yang tepat dalam hal diagnosis, indikasi penyakit, pemilihan obat, dosis obat, cara pemberian, interval waktu pemberian, lama pemberian, penilaian kondisi pasien, serta waspada terhadap efek samping. Penggunaan antibiotika yang tidak rasional dapat menyebabkan peningkatan biaya pengobatan, risiko terjadinya efek samping obat, dan juga resistensi antibiotika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasionalitas penggunaan antibiotika pada pasien poli gigi salah satu rumah sakit pendidikan di Jakarta. Metode penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif yang bersifat retrospektif, datanya diambil dari 60 rekam medis yang memuat pemberian resep antibiotika pada pasien poli gigi salah satu rumah sakit pendidikan di Jakarta periode Juni-Juli 2019. Data penelitian yang diperoleh dianalisis menggunakan kriteria Gyssens dkk. Hasil Penggunaan antibiotika pada penelitian ini yang rasional sebesar 68,3%, sedangkan yang tidak rasional terdiri dari 15% disebabkan oleh adanya antibiotika lain yang kurang toksik atau lebih aman, 10% disebabkan oleh adanya antibiotika lain yang lebih efektif dan 6,7% disebabkan oleh penggunaan antibiotika tanpa indikasi. Kesimpulan Penggunaan antibiotika yang rasional pada pasien poli gigi salah satu rumah sakit pendidikan di Jakarta sebesar 68,3%. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. Jurnal Ilmiah dan TeknologiKedokteran GigiFKG UPDM BISSN 1693-3079eISSN 2621-8356RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PADA PASIEN POLI GIGI SALAH SATU RUMAH SAKIT PENDIDIKAN DI JAKARTAPinka Taher*, Poetry Oktanauli*, Siti Riskia Anggraini***Departemen Oral Biologi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama, Jakarta**Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama, JakartaKorespondensi Pinka Taher, belakang penggunaan antibiotika sebagai terapi dasar dalam penyakit infeksi harus dilakukan secara bijak dan rasional. Penggunaan antibiotika yang rasional adalah penggunaan antibiotika yang tepat dalam hal diagnosis, indikasi penyakit, pemilihan obat, dosis obat, cara pemberian, interval waktu pemberian, lama pemberian, penilaian kondisi pasien, serta waspada terhadap efek samping. Penggunaan antibiotika yang tidak rasional dapat menyebabkan peningkatan biaya pengobatan, risiko terjadinya efek samping obat, dan juga resistensi antibiotika. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasionalitas penggunaan antibiotika pada pasien poli gigi salah satu rumah sakit pendidikan di Jakarta. Metode penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif yang bersifat retrospektif, datanya diambil dari 60 rekam medis yang memuat pemberian resep antibiotika pada pasien poli gigi salah satu rumah sakit pendidikan di Jakarta periode Juni-Juli 2019. Data penelitian yang diperoleh dianalisis menggunakan kriteria Gyssens dkk. Hasil penggunaan antibiotika pada penelitian ini yang rasional sebesar 68,3%, sedangkan yang tidak rasional terdiri dari 15% disebabkan oleh adanya antibiotika lain yang kurang toksik atau lebih aman, 10% disebabkan oleh adanya antibiotika lain yang lebih efektif dan 6,7% disebabkan oleh penggunaan antibiotika tanpa indikasi. Kesimpulan penggunaan antibiotika yang rasional pada pasien poli gigi salah satu rumah sakit pendidikan di Jakarta sebesar 68,3%.Kata kunci antibiotika, rasional, Gyssens ABSTRACTBackground The use of antibiotics as a basic therapy in infectious diseases must be done wisely and rationally. The rational use of antibiotics is the correct use of antibiotics in terms of diagnosis, disease indication, drug selection, drug dosage, method of administration, time interval of administration, duration of administration, assessment of the patient’s condition, and awareness of side eects. The irrational use of antibiotics will lead to increased medical costs, the risk of drug side eects, and also antibiotic resistance. Purpose This study aims to determine the rationality of antibiotics usage in the dental clinic’s patients of a teaching hospital in Jakarta. Method This study was a retrospective descriptive observational, in which data were taken from 60 medical records containing prescription of antibiotics for patients in the dental clinic of a teaching hospital in Jakarta for the period June-July 2019. The data obtained were then analyzed using Gyssens et all criteria. Results In this study, the rational use of antibiotics was while the irrational use of antibiotics consisted of 15% due to the presence of other antibiotics that were less toxic or safer, 10% due to the presence of other antibiotics that were more eective and caused by the use of antibiotics without indication. Conclusion The rationality of antibiotics usage in dental clinic’s patients of a teaching hospital in Jakarta is antibiotics, rational, Gyssens PENDAHULUANAntibiotika merupakan salah satu obat yang paling sering digunakan dalam kedokteran gigi. Antibiotika digunakan untuk mengobati berbagai infeksi jaringan keras maupun jaringan lunak dalam rongga mulut. Penggunaan antibiotika haruslah dilakukan secara cermat dan rasional. Hal ini disebabkan penggunaan obat yang tidak cermat JITEKGI 2020, 16 2 51-56diterbitkan di Jakarta 52 Pinka Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi FKG UPDMBNovember 2020dan rasional dapat menyebabkan berbagai kerugian bagi pasien dan masyarakat, antara lain peningkatan biaya pengobatan, risiko terjadinya efak samping bahkan toksisitas obat, dan juga terjadinya resistensi Penggunaan antibiotika yang rasional harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain 1 berdasarkan diagnosis yang tepat, 2 sesuai indikasi penggunaan obat, 3 tepat dalam pemilihan obat, dosis obat, pemilihan rute pemberian obat, penentuan interval waktu dan lama pemberian obat, 4 berdasarkan penilaian kondisi pasien secara individual, dan 5 waspada terhadap risiko terjadinya efek samping Penggunaan antibiotika tidak rasional yang sering terjadi adalah penggunaan antibiotika untuk penyakit yang sebenarnya tidak memerlukan antibiotika, penggunaan hanya satu golongan antibiotika untuk infeksi polimikrobial yang disebabkan oleh kuman aerob dan anaerob, pemberian dosis yang tidak adekuat dan penggunaan antibiotika yang tidak memperhatikan kondisi pasien sehingga meningkatkan risiko toksisitas penelitian yang dilakukan di negara maju dan berkembang menunjukkan bahwa lebih dari separuh penggunaan antibiotika di dunia dilakukan secara tidak rasional. The Center for Disease Control and Prevention di Amerika menyebutkan bahwa ditemukan 50 juta pemberian resep antibiotika yang tidak rasional dari 150 juta pemberian resep antibiotika setiap Demikian juga dengan penggunaan antibiotika di Indonesia, pemberian resep antibiotika yang tidak rasional ditemukan di banyak rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat. Sekitar 40-62% antibiotika di Indonesia digunakan secara tidak rasional untuk kasus-kasus yang seharusnya tidak memerlukan antibiotika. Penilaian penggunaan antibiotika secara rasional di RSUD Dr. Soetomo Surabaya dan RSUP Dr. Karyadi Semarang yang mewakili rumah sakit pendidikan di Indonesia, menunjukkan bahwa 30-80% penggunaan antibiotika tidak didasarkan pada indikasi yang penjelasan latar belakang di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui rasionalitas penggunaan antibiotika pada pasien poli gigi salah satu rumah sakit pendidikan di PENELITIANPenelitian observasional deskriptif ini di-lakukan secara retrospektif terhadap data rekam medis yang memuat pemberian resep antibiotika untuk pasien poli gigi salah satu rumah sakit pendidikan di Jakarta. Sampel penelitian diambil dengan metode total sampling, sehingga didapatkan sampel sebanyak jumlah keseluruhan pasien yang menerima resep antibiotika periode Juni-Juli 2019. Total sampel yang diperoleh adalah 60 rekam medis, dihitung berdasarkan rumus Data sekunder yang berhasil dihimpun memuat anamnesis pasien, demogra umur, jenis kelamin, diagnosis penyakit, nama antibiotika, frekuensi, durasi dan rute atau cara pemberian antibiotika. Selanjutnya data ini dianalisis menggunakan kriteria Gyssens dkk. Kriteria Gyssens dkk merupakan suatu metode untuk mengevaluasi kualitas penggunaan antibiotika yang telah digunakan secara luas di berbagai Penilaian rasionalitas penggunaan antibiotika meng-gunakan kriteria atau klasikasi Gyssens dkk terbagi dalam kategori, sebagai berikut6, 0 = penggunaan antibiotika tepat atau rasionalKategori I = penggunaan antibiotika tidak tepat waktu Kategori IIA = penggunaan antibiotika tidak tepat dosisKategori IIB = penggunaan antibiotika tidak tepat intervalKategori IIC = penggunaan antibiotika tidak tepat cara atau rute pemberianKategori IIIA = penggunaan antibiotika terlalu lamaKategori IIIB = penggunaan antibiotika terlalu singkat Kategori IVA = ada antibiotika lain yang lebih efektifKategori IVB = ada antibiotika lain yang kurang toksik atau lebih amanKategori IVC = ada antibiotika lain yang lebih murah Kategori IVD = ada antibiotika lain yang lebih spesik Kategori V = penggunaan antibiotika tanpa indikasiKategori VI = rekam medis tidak lengkap dan tidak dapat dievaluasiAlur penilaian rasionalitas penggunaan antibiotika berdasarkan kriteria Gyssens dkk dapat dilihat pada gambar Pinka 53Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi FKG UPDMBNovember 2020Penilaian rasionalitas penggunaan antibiotika menurut Gyssens dkk dimulai dari kotak paling atas, yaitu melihat lengkap tidaknya data untuk melanjutkan penilaian. Bila data tidak lengkap, penilaian berhenti di kategori VI. Data tidak lengkap adalah data rekam medis tanpa disertai diagnosis penyakit, atau ada halaman rekam medis yang hilang sehingga tidak dapat dievaluasi. Bila data lengkap, dilanjutkan dengan penilaian ada tidaknya indikasi pemberian antibiotika. Bila tidak ada indikasi pemberian antibiotika, penilaian berhenti di kategori V. Bila antibiotika memang merupakan indikasi, dilanjutkan dengan penilaian ketepatan pemilihan antibiotika. Bila ada pilihan Gambar 1. Alur Penilaian Kualitatif Penggunaan Antibiotika menurut Gyssens dkk9antibiotika lain yang lebih efektif, penilaian berhenti di kategori IVa. Bila tidak ada antibiotika lain yang lebih efektif, dilanjutkan dengan penilaian ada tidaknya alternatif antibiotika lain yang kurang toksik. Bila ada pilihan antibiotika lain yang kurang toksik, penilaian berhenti di kategori IVb. Bila tidak ada antibiotika lain yang kurang toksik, dilanjutkan dengan penilaian ada tidaknya alternatif antibiotika lain yang lebih murah. Bila ada pilihan antibiotika lain yang lebih murah, penilaian berhenti di kategori IVc. Penilaian ini berpatokan pada daftar harga obat yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan semua antibiotika dihitung harganya sebagai obat generik. 54 Pinka Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi FKG UPDMBNovember 2020Bila tidak ada antibiotika lain yang lebih murah, dilanjutkan dengan penilaian ada tidaknya alternatif antibiotika lain yang spektrumnya lebih sempit. Bila ada pilihan antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit, penilaian berhenti di kategori IVd. Jika tidak ada antibiotika lain yang memiliki spektrum antimikroba lebih sempit, dilanjutkan dengan penilaian durasi pemberian antibiotika. Bila durasi pemberian antibiotika terlalu lama, penilaian berhenti di kategori IIIa. Bila durasi pemberian antibiotika tidak terlalu lama, dilanjutkan dengan penilaian durasi pemberian antibiotika tidak terlalu singkat. Bila durasi pemberian antibiotika terlalu singkat, penilaian berhenti di kategori IIIb. Bila durasi pemberian antibiotika tidak terlalu singkat, diteruskan dengan penilaian ketepatan pemberian dosis antibiotika. Bila dosis pemberian antibiotika tidak tepat, penilaian berhenti di kategori IIa. Bila dosisnya sudah tepat, dilanjutkan dengan penilaian ketepatan interval pemberian antibiotika. Bila interval pemberian antibiotika tidak tepat, penilaian berhenti di kategori IIb. Bila intervalnya sudah tepat, dilanjutkan dengan penilaian ketepatan rute pemberian antibiotika. Bila rute pemberian antibiotika tidak tepat, penilaian berhenti di kategori IIc. Bila rute sudah tepat, dilanjutkan ke kotak berikutnya. Bila antibiotika tidak termasuk kategori I sampai dengan VI maka antibiotika tersebut merupakan kategori PENELITIANGolongan antibiotika yang terdapat dalam 60 rekam medis ini dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1 menunjukkan bahwa golongan antibiotika yang paling banyak digunakan pada penelitian ini adalah penisilin yaitu 68,3%, diikuti dengan golongan linkosamid 30%. Tabel 1. Golongan AntibiotikaGolongan Antibiotika Frekuensi Persentase %Penisilin 41 68,3%Linkosamid 18 30%Sefalosporin 1 1,7%Berbagai kategori kriteria Gyssens dkk dari tiap golongan antibiotika berdasarkan diagnosis penyakit dapat dilihat pada tabel 2. Penggunaan Antibiotik Berdasarkan Diagnosis Penyakit Menurut Kriteria Gyssens dkkDiagnosis-Terapi Antibiotika FrekuensiKategori0I VA IVB VGangren pulpa, +pulpa polip, +abses - Trepanasi/ Exo/PSA/medisasiPenisilin 20 20 0 0 0Linkosamid 2 0 0 2 0Sefalosporin 1 0 1 0 0Gangren radiks - ExoPenisilin 5 5 0 0 0Linkosamid 1 0 0 1 0Abses – Insisi/medisasiPenisilin 4 4 0 0 0Linkosamid 2 2 0 0 0Perikoronitis - OperkulektomiPenisilin 1 1 0 0 0Linkosamid 2 0 0 2 0Periodontitis – Scaling + root planing / medisasiPenisilin 1 0 1 0 0Linkosamid 4 0 4 0 0Pulpitis kronis - ExoPenisilin 4 4 0 0 0Linkosamid 4 0 0 4 0Hiperemi pulpa – Filling Penisilin 2 0 0 0 2Gingivitis – Scaling Penisilin 2 0 0 0 2Impaksi – OdontektomiPenisilin 2 2 0 0 0Linkosamid 3 3 0 0 0 Pinka 55Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi FKG UPDMBNovember 2020Tabel 3 memuat kategori kriteria Gyssens dkk dari tiap golongan antibiotika yang digunakan pada penelitian ini. Pada tabel ini dapat dilihat bahwa golongan penisilin yang paling banyak digunakan secara rasional yaitu 36 dari 41 kasus 88%, sedangkan golongan linkosamid sebanyak 5 dari 18 kasus 28% dan golongan sefalosporin tidak ada yang memenuhi kategori 3. Kategori Kriteria Gyssens dkk dari Tiap Golongan AntibiotikaGolongan AntibiotikaKriteria Gyssens dkkTotal0I VA IVB VPenisilin 36 1 0 4 41Lincosamide 5 4 9 0 18Sefalosporin 0 1 0 0 1Kategori kriteria Gyssens dkk dari seluruh penggunaan antibiotika pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4 dan menunjukkan bahwa penggunaan antibiotika kategori 0 penggunaan antibiotika tepat atau rasional sebanyak 68,3%, kategori IVA ada antibiotika lain yang lebih efektif sebanyak 10%, kategori IVB ada antibiotika lain yang kurang toksik atau lebih aman sebanyak 15%, dan kategori V penggunaan antibiotika tanpa indikasi sebanyak 6,7%. Tabel 4. Kategori Kriteria Gyssens dkkKriteria Gyssens dkk Frekuensi Persentase%Kategori 0 41 68,3%Kategori IVA 6 10%Kategori IVB 9 15%Kategori V 4 6,7%PEMBAHASANPenggunaan antibiotika di poli gigi salah satu rumah sakit pendidikan di Jakarta pada penelitian ini yang rasional sebesar 68,3%, dengan 88% antibiotika yang rasional adalah penisilin. Penggunaan antibiotika yang rasional adalah penggunaan antibiotika yang memenuhi beberapa kriteria, antara lain hanya diberikan untuk pasien dengan gejala Penisilin pada penelitian ini hanya diberikan untuk kasus-kasus infeksi gigi yaitu gangren pulpa, gangren radiks, perikoronitis dan gigi impaksi, sehingga memenuhi kriteria penggunaan yang rasional. Kriteria berikutnya yaitu tepat pemilihan obat, pemberian antibiotika pada kasus infeksi harus mempertimbangkan faktor jenis mikroorganisme penyebab infeksi dan kepekaan mikroorganisme tersebut terhadap antibiotika yang Infeksi odontogenik merupakan infeksi polimikrobial yang disebabkan oleh banyak spesies bakteri berbeda, baik gram positif maupun gram Golongan penisilin yang diberikan di penelitian ini adalah amoksilin. Amoksilin memiliki spektrum antimikroba luas broad spectrum yang aktif terhadap bakteri gram positif dan Jadi pemberian amoksilin pada penelitian ini adalah rasional. Kriteria berikutnya adalah tepat dosis, interval dan lama pemberian, karena pemberian dosis obat yang berlebihan dapat berisiko menimbulkan efek samping, begitupun sebaliknya pemberian dosis obat yang terlalu kecil dapat menyebabkan tidak tercapainya efek terapi yang Pada penelitian ini amoksilin digunakan dengan dosis 250-500 mg 3 kali sehari selama 3-5 hari. Hal ini sudah sesuai dengan dosis lazim Kriteria berikutnya adalah tepat cara pemberian obat, beberapa antibiotika tidak dapat diberikan secara oral karena dirusak oleh asam lambung. Pada penelitian ini amoksilin merupakan antibiotika yang tepat diberikan secara oral, karena proses absorpsinya sangat baik bahkan dapat diberikan bersama-sama dengan Kriteria berikutnya adalah tepat penilaian kondisi pasien, yaitu pemberian obat harus sesuai dengan kondisi pasien berdasarkan riwayat sistemik atau keluarga pasien. Pasien-pasien yang memiliki penyakit sistemik seperti diabetes melitus, gangguan sistem kekebalan tubuh seperti HIV, atau pasien yang mendapat terapi imunosupresan harus diberikan antibiotika yang memiliki aktivitas bakterisid. Amoksilin merupakan antibiotika yang memiliki aktivitas bakterisid sehingga dapat diberikan pada pasien-pasien dengan kondisi Kriteria berikutnya adalah waspada terhadap efek samping, dalam hal ini toksisitas golongan penisilin relatif rendah, kecuali untuk reaksi alergi. Insidensi reaksi alergi penisilin hanya 1-5%, sekalipun penisilin sendiri merupakan salah satu golongan antibiotika yang paling Penelitian juga menunjukkan bahwa 10% penggunaan antibiotika di poli gigi rumah sakit pendidikan ini termasuk dalam Kriteria Gyssens dkk kategori IVA, yang berarti penggunaan antibiotika tidak rasional karena adanya antibiotika lain yang lebih efektif. Sebagian besar kategori IVA ini berasal dari penggunaan antibiotika golongan linkosamid, yaitu klindamisin pada kasus periodontitis dan ter dapat satu penggunaan antibiotika golongan sefalosporin, yaitu cefadroxil pada kasus pencabutan. Pada kasus periodontitis, obat antibiotika yang efektif diguna-kan adalah antibiotika golongan tetrasiklin seperti Hal ini disebabkan mekanisme kerja tetrasiklin yang dapat menghambat sintesis dan pelepasan kolagenase sebagai antikolagenase dari leukosit polimorfonuklear PMNs. Enzim kolagenase ini merusak dan memecah kolagen yang ada pada jaringan periodontal gingiva, tulang, ligamen periodontal. Doksisiklin mempunyai aktivitas 56 Pinka Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi FKG UPDMBNovember 2020antikolagenase terbesar. Doksisiklin 20 mg diguna kan dalam penata laksanaan periodontitis kronis generalis, disertai tindakan skeling dan root planing untuk men-dapat kan perlekatan pada jaringan periodonsium dan mengurangi kedalaman Penggunaan klindamisin pada kasus periodontitis di penelitian ini tidak rasional, walaupun klindamsin merupakan antibiotika spektrum sempit yang efektif terhadap sebagian besar bakteri gram positif dan anaerob, namun tidak memiliki aktivitas antikolagenase seperti doksisiklin. Penggunaan sefalosporin pada kasus pencabutan gigi di penelitian ini tidak rasional, disebabkan sefalosporin bukan merupakan obat pilihan utama untuk infeksi gigi karena kemampuan permeabilitas yang kurang terhadap bakteri penyebab infeksi gigi. Selain itu, spektrum sefalosporin yang luas tidak membuatnya lebih unggul dibandingkan efektivitas penisilin V untuk bakteri patogen odontogenik ini juga mendapati 15% penggunaan antibiotika termasuk dalam kriteria Gyssens dkk kategori IVB, yang berarti penggunaan antibiotika tidak rasional karena ada antibiotika lain yang kurang toksik atau lebih aman. Salah satu alasan penggunaan golongan penisilin sebagai pilihan antibiotika lini pertama adalah aman dari efek samping, kecuali reaksi Pada penelitian ini sebagian besar kategori IVB berasal dari pemberian resep klindamisin yang masih digunakan sebagai antibiotika lini pertama pada kasus pencabutan ringan. Salah satu faktor yang membatasi penggunaan klindamisin adalah banyaknya efek samping yang dapat disebabkan oleh obat ini, antara lain mual, muntah, diare, nyeri perut, ruam pada kulit, kolitis pseudomembranosis, Stevens Johnson Syndrome, granulositopenia konsentrasi sel darah putih yang rendah dan ini juga menunjukkan sebanyak 6,7% penggunaan antibiotika termasuk dalam kriteria Gyssens dkk kategori V, yang berarti penggunaan antibiotika tidak rasional karena penggunaan antibiotika tidak diperlukan atau tidak sesuai dengan indikasi penyakit. Terdapat empat kasus yang tidak memerlukan pemberian antibiotika, namun menerima pemberian resep antibiotika. Keempat kasus tersebut adalah dua kasus hiperemi pulpa dan dua kasus gingivitis. Gingivitis memang disebabkan oleh infeksi bakteri, namun belum ada literatur yang mendukung penggunaan antibiotika sistemik pada gingivitis. Hal ini disebabkan infeksi tersebut umumnya terlokalisir pada permukaan gingiva yang kedalamannya dangkal sehingga mudah dirawat serta bersifat DAN SARANPenggunaan antibiotika di poli gigi salah satu rumah sakit pendidikan di Jakarta yang rasional adalah sebesar 68,3%. Sedangkan penggunaan antibiotika yang tidak rasional disebabkan oleh adanya pilihan antibiotika lain yang lebih aman sebesar 15%, pilihan antibiotika lain yang lebih efektif sebesar 10% dan penggunaan antibiotika tanpa indikasi sebesar 6,7%. DAFTAR PUSTAKA1. Suardi HN. Antibiotika dalam Dunia Kedokteran Gigi. Cakradonya Dent J. 2014; 6 2 Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Kemenkes RI. Modul Penggunaan Obat Rasional. Jakarta Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Center for Disease Control and Prevention. Antibiotic Resistence Threats in The United States. United States Department of Health and Human Services. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Kemenkes RI. Pedoman Umum Penggunaan Antibiotika. Jakarta Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Notoatmodjo S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta Rineka Cipta. 2010 Sitompul F, Radji M, Bahtiar A. Evaluasi Penggunaan Antibiotik dengan Metode Gyssens pada Pasien Stroke Rawat Inap di RSUD Koja secara Retrospektif. Jurnal Kefarmasian Indonesia. 2016; 6 1 Feb Sumiwi SA. Kualitas Penggunaan Antibiotik pada Pasien Bedah Digestif di Salah Satu Rumah Sakit di Bandung. Jurnal Farmasi Klinik Indonesia. 2014; 3 4 Indriani L dan Zunnita O. Penilaian Terhadap Rasioanalitas Penggunaan Antibiotika Pada Balita Penderita Pneumonia Puskesmas Bogor Utara. Fitofarmaka Jurnal Ilmiah Farmasi. 2018; 8 2 Desember Faizah AK dan Putra ON. Evaluasi Kualitatif Terapi Antibiotik pada Pasien Pneumonia di Rumah Sakit Pendidikan Surabaya Indonesia. Jurnal Sains Farmasi & Klinis. 2019; 62 Agustus 129-13310. Patminingsih N, Laksmitawati DR, Ramadaniati HU. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Pada Pengobatan Sepsis Neonatal Dengan Metoda Gyssens di RSAD Salak Bogor Tahun 2018. Jurnal Ilmiah Indonesia. 2020; 5 7 Katzung BG, Masters SB, Trevor AJ. Basic & Clinical Pharmacology 12th ed. Toronto Mc Graw Hill Medical. 2012 Brunton LL, Dandan RH, Knollmann BC. Goodman & Gilman’s The Pharmacological Basis of Therapeutics 13th ed. Toronto Mc Graw Hill Education. 2018 962-965, 1023-37, Dowd FJ, Johnson BS, Mariotti AJ. Pharmacology And Therapeutics For Dentistry 7th ed. Missouri Elsevier. 2017 Troeltzsch M. A Review of Pathogenesis, Diagnosis, Treatment Options, and Dierential Diagnosis of Odontogenic Infections A Rather Mundane Pathology. Quentessence International General Dentistry. 2015; 46 351-361. 15. Weinberg M, Froum SJ. Buku Panduan Kedokteran Gigi Obat dan Pemberian resep The Dentist’s Drug and Prescription Guide. Lilian J penerjemah, Melanie S penyunting, penerjemah. Jakarta EGC. 2018 58-79, 160-185, 279. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this antibiotik yang tidak rasional dapat meningkatkan angka resistensi antibiotik, morbiditas, mortalitas dan biaya kesehatan. Evaluasi penggunaan antibiotik dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah evaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif pada pasien pneumonia di RSUD dr. Soetomo Surabaya. Penelitian ini dilakukan secara kohort prospektif pada pasien pneumonia yang menjalani rawat inap di RSUD dr. Soetomo selama 4 bulan dan dievaluasi denga metode Gyssens. Data diambil dari rekam medik pasien berupa nomer rekam medik, nama pasien, usia, berat badan, diagnosis, data klinik, data laboratorium, terapi, dosis, rute pemberian dan interval terapi. Dari hasil penelitian diperoleh 47 pasien pneumonia, termasuk pneumonia komunitas, pneumonia nosokomial dan bronkopneumonia. Pasien berusia mulai dari 0-24 bulan 21%; 2-12 tahun 4%; 13-59 tahun 49% dan >59 tahun 26%. Lima besar antibiotik yang digunakan adalah seftazidim 20%, levofloksasin 18% dan seftriakson 14%. Dalam peneitian ini menunjukkan 3 pasien 6% kategori IVA alternatif lebih efektif; 3 6% pasien kategori IIIA pemerian terlalu lama dan 1 pasien 2% kategori IIA dosis tidak tepat. Apoteker berperan dalam evaluasi antiiotika untuk meningkatkan kualitas hidup is a major cause of mortality and morbidity worldwide . Patients with stroke are susceptible to medical complications, especially infections. This study aim to evaluate antibiotic by stroke in patients hospitalized in RSUD Koja KJS and BPJS period with Gyssens methods . The study design i s a retrospective cross-sectional . The sample is consisted of 112 medical records from KJS period July 2013-December 2013 and 74 medical records from BPJS period January 2014-June 2014 taken by total sampling . The use of antibiotic were analyzed using Chi Square and logistic regression multivariate. The percentage of antibiotic use was 23,11%, mostly were ceftriaxon 33,3%, ceftizozim 7,6% and amoxicillin – clavulanic acid 7,6%. Length of stay more than 7 days was 77,96% . The most common route of antibiotic administration was parenteral 68,67% . Patients that were given antibiotics were,among others,diagnosal by bronchopneumonia 29,33% , pulmonary tuberculosis and 17,6% and urinary tract infection 8,7% . The clinical outcome showed that 69,3% of 186 patients were recovered after antibiotic were given to treat their infections . Gyssen evaluation method showed that rational antibiotic used on KJS period was 77,4% and BPJS periods was 81,3%. There were correlations between rational use at antibiotic and the route of administration, between clinical outcome anduse at diagnosis and route of administration. The conclusion of this study according to Gyssen method is the rational antibiotic influence the clinical outcome p alpha Hal ini menunjukkan H0 diterima atau tidak adanya hubungan rasionalitas dengan lama hari sembuh. Penggunaan rasional atau tidaknya tidak ada hubungannya dengan seorang pasien lebih cepat atau lebih lama dalam penyembuhan. Kata kunci Penggunaan antibiotika; sepsis neonatal; metoda GyssensLusi IndrianiOktaviana ZunnitaPneumonia adalah penyakit peradangan paru yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, maupun jamur. Penyakit infeksi menular ini menjadi salah satu penyebab utama kematian pada balita di dunia. Pengobatan pneumonia dengan terapi antibiotika yang tepat dan rasional akan menentukan keberhasilan pengobatan. Penelitian ini bertujuan menilai rasionalitas penggunaan antibiotika pada balita penderita pneumonia di Puskesmas Bogor Utara periode Januari-Desember tahun 2016. Penilaian dilakukan berdasarkan metode Gyssens dengan melihat ketepatan indikasi, ketepatan pemilihan obat, ketepatan jangka waktu penggunaan, dan ketepatan dosis antibiotika. Hasil penilaian rasionalitas dengan metode Gyssens pada kategori V tidak rasional karena tidak ada indikasi penggunaan antibiotika adalah 0%, kategori IVa tidak rasional karena ada antibiotika lain yang lebih efektif adalah 0%, kategori IVd tidak rasional karena ada antibiotika lain yang spektrumnya lebih sempit 0%, kategori IIIa tidak rasional karena pemberian antibiotika terlalu lama 0%, kategori IIIb tidak rasional karena pemberian antibiotika terlalu singkat 9,6%, katogeri IIa tidak rasional karena dosis tidak tepat sebanyak 43,8%, serta kategori 0 penggunaan antibiotika tepat/rasional sebanyak 46,6%. Dari semua kategori yang dinilai dapat disimpulkan bahwa di Puskesmas Bogor Utara, pemilihan antibiotika untuk pneumonia sudah rasional kecuali untuk kategori dosis dan lama atau jangka waktu pemberian yang tidak tepat/ dalam Dunia Kedokteran GigiH N SuardiSuardi HN. Antibiotika dalam Dunia Kedokteran Gigi. Cakradonya Dent J. 2014; 6 2 Penggunaan Antibiotik pada Pasien Bedah Digestif di Salah Satu Rumah Sakit di BandungS A SumiwiSumiwi SA. Kualitas Penggunaan Antibiotik pada Pasien Bedah Digestif di Salah Satu Rumah Sakit di Bandung. Jurnal Farmasi Klinik Indonesia. 2014; 3 4 G KatzungS B MastersA J TrevorKatzung BG, Masters SB, Trevor AJ. Basic & Clinical Pharmacology 12 th ed. Toronto Mc Graw Hill Medical. 2012 & Gilman's The Pharmacological Basis of Therapeutics 13 th ed. Toronto Mc Graw Hill EducationL L BruntonR H DandanB C KnollmannBrunton LL, Dandan RH, Knollmann BC. Goodman & Gilman's The Pharmacological Basis of Therapeutics 13 th ed. Toronto Mc Graw Hill Education. 2018 962-965, 1023-37, dan Pemberian resep The Dentist's Drug and Prescription Guide. Lilian J penerjemah, Melanie S penyunting, penerjemahM WeinbergS J FroumGigi Buku Panduan KedokteranWeinberg M, Froum SJ. Buku Panduan Kedokteran Gigi Obat dan Pemberian resep The Dentist's Drug and Prescription Guide. Lilian J penerjemah, Melanie S penyunting, penerjemah. Jakarta EGC. 2018 58-79, 160-185, 279.
› Tenaga kesehatan menjadi kunci dalam mencegah resistensi antimikroba yang menjadi salah satu ancaman kesehatan global. Ini dilakukan dengan cara menghindari penggunaan antibiotik yang tidak perlu kepada pasien. OlehPradipta Pandu Mustika 4 menit baca KOMPAS/DAHLIA IRAWATI Peneliti dari Ma Chung Research Cetre for Photosyntetic Pigments Universitas Ma Chung, Edi Setiyono, menunjukkan antibiotik alami temuannya, Senin 3/2/2020, di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Ma Chung. Antibiotik alami hasil temuan tersebut diyakini lebih aman daripada antibiotik sintetis yang selama ini KOMPAS — Resistensi antimikroba yang disebabkan intensitas penggunaan antibiotik telah menjadi salah satu ancaman kesehatan global paling berbahaya di dunia. Tenaga kesehatan menjadi kunci dalam mencegah resistensi antimikroba dengan menghindari penggunaan antibiotik yang tidak perlu kepada kajian dari ekonom Jim O’Neill pada 2014 memperkirakan saat ini ada sekitar kematian per tahun di dunia yang terjadi karena resistensi antimikroba AMR. Pada 2050, AMR diperkirakan menyebabkan kematian hingga 10 juta orang per tahun secara global. Penggunaan antibiotik yang tidak semestinya merupakan salah satu penyumbang besar angka AMR di dunia kesehatan. Sementara Organisasi Kesehatan Dunia WHO mencatat, terdapat peningkatan penggunaan antibiotik sebesar 91 persen secara global dari tahun 2000 hingga 2015. Bahkan, di negara berkembang peningkatan mencapai 165 persen. Peningkatan penggunaan antibiotik dalam jumlah sangat besar ini menjadikan AMR sebagai salah satu dari sepuluh besar ancaman kesehatan global paling berbahaya di Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba KPRA Hari Paraton mengemukakan, sebagian besar AMR menyebabkan infeksi yang sangat kompleks terutama bagi pasien yang memiliki komorbid. Hal ini membuat proses penyembuhan menjadi semakin sulit dan pada akhirnya turut berdampak pada sosial ekonomi infeksi bakteri biasa, rata-rata pengobatan menghabiskan biaya dollar di Amerika. Namun, ketika bakterinya berubah menjadi resisten, maka akan ada penambahan sekitar dollar AS, terutama untuk perawatan dan pengobatan.”Jika infeksi bakteri biasa, rata-rata pengobatan menghabiskan biaya dollar di Amerika. Namun, ketika bakterinya berubah menjadi resisten, maka akan ada penambahan sekitar dollar AS, terutama untuk perawatan dan pengobatan,” ujarnya dalam webinar memperingati World Antibiotics Awareness Week 2021, Jumat 5/11/2021.Hasil kajian dari KPRA, pada 2016 penggunaan antibiotik di 11 rumah sakit pendidikan mencapai 70-80 persen. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2005 yang tercatat 55-76 persen. Peningkatan ini perlu disikapi karena paparan antibiotik secara terus-menerus membuat bakteri semakin menjelaskan, AMR merupakan fenomena mutasi alamiah. Secara sederhana, bakteri yang sudah resisten kerap kawin dengan bakteri nonresisten dan dari sinilah terjadi perpindahan gen. Ketika bakteri mati dan pecah, gen resisten akan dicari oleh bakteri lain dan diinduksikan ke dalam tubuh bakteri juga Resisten Antimikroba Masih Jadi Ancaman di Indonesia dan GlobalDampak AMR di rumah sakit di antaranya infeksi berat di aliran darah, saluran kemih, daerah operasi, dan pneumonia. Operasi yang sudah berjalan bagus juga bisa gagal karena adanya infeksi ini seperti cangkok liver, jantung, hingga ini, Kementerian Kesehatan sudah menerapkan strategi utama pengendalian AMR melalui pencegahan resistensi. Upaya yang dilakukan yakni menghindari penggunaan antibiotik yang tidak perlu dan menurunkan konsumsinya. Upaya ini perlu pemahaman dan kesadaran dari dokter, perawat, bidan, farmais, hingga pasien dan RAMADHAN Gambar beberapa bakteri yang telah kebal terhadap antibiotik jika dilihat di bawah mikroskop yang telah juga telah mengeluarkan panduan penatagunaan antimikroba PGA di rumah sakit untuk mengoptimalkan penggunaan antimikroba secara bijak baik kuantitas maupun kualitas. Alur PGA dimulai dari dokter penanggung jawab pelayanan kemudian akan dikaji oleh petugas farmasi dan disampaikan ke perawat hingga diberikan ke pasien.”Jadi, petugas farmasi menjadi posisi kunci dalam pra-otorisasi dan harus mampu belajar secara klinis untuk menilai apakah antibiotik tersebut layak diberikan kepada pasien atau tidak. Orientasinya tetap kesembuhan pasien yang menjadi tujuan utama,” kata ”one health”Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Tri Wibawa mengatakan, AMR dapat melibatkan semua orang dari berbagai umur dan daerah. Meski terjadi secara natural, penyalahgunaan antibiotik pada sektor manusia dan hewan dapat mempercepat proses terjadinya menegaskan, AMR merupakan masalah yang memerlukan pendekatan satu kesehatan one health karena menyangkut permasalahan manusia, hewan, dan lingkungan. Pada manusia, pasien, dokter, dan farmasi menjadi subyek penting dalam penanganan AMR.”Pasien menjadi subyek penanganan AMR ketika dia mencari antibiotik sendiri. Kemudian dokter menjadi subyek karena berperan dalam menggunakan antibiotik dengan baik atau tidak. Sementara farmasi ini tidak hanya petugas, tetapi juga perusahaan obat, distributor, hingga apotek,” juga mengakui bahwa saat ini banyak penjualan antibiotik tanpa resep di masyarakat. Oleh karena itu, semua pihak juga perlu memperhatikan proses penjualan antibiotik tanpa resep khususnya dari sektor informal sebagai upaya mencegah dan menanggulangi juga Ancaman Pandemi dari Resistansi Antimikroba EditorAloysius Budi Kurniawan
Anda tidak harus mengonsumsi antibiotik setiap kali sakit! Kapan waktu yang tepat?Antibiotik merupakan salah satu jenis obat yang banyak digunakan di tengah masyarakat. Perkembangan antibiotik dinilai sebagai salah satu kemajuan di dunia kedokteran modern. Sejak antibiotik digunakan pada tahun 1940-an, angka harapan hidup manusia menjadi Antibiotik Antibiotik digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Saat ini, jenis antibiotik yang ada biasanya bekerja dengan cara membunuh bakteri penyebab infeksi, atau menghambat bakteri dalam memperbanyak diri di dalam umumnya, antibiotik digunakan oleh dokter untuk mengobati berbagai jenis penyakit, antara lain infeksi telinga, infeksi sinus, infeksi gigi, infeksi kulit, infeksi pada selaput otot, infeksi saluran pernapasan, dan infeksi saluran yang disebabkan oleh virus, seperti influenza tidak akan efektif bila diobati dengan antibiotik. Biasanya bila diperlukan, dokter akan memberikan obat antivirus untuk infeksi yang disebabkan oleh Kaprah Soal AntibiotikSayangnya, saat ini penggunaan antibiotik di masyarakat masih belum bijak. Masih banyak orang yang minum antibiotik tidak sesuai indikasi pengobatan dan tanpa resep dokter, apa pun jenis penyakit yang Hasil Riset Kesehatan Dasar Riskesdas 2013 didapatkan 35,2% rumah tangga menyimpan obat untuk swamedikasi. Dari 35,2% tersebut, 86,1% di antaranya memperoleh obat antibiotik tanpa resep penggunaan antibiotik tertentu secara sembarangan dapat menghasilkan pengobatan yang tidak efektif dan menyebabkan resistansi bakteri bakteri kebal terhadap antibiotik tertentu. Resistansi bakteri dapat timbul karena penggunaan antibiotik secara berjalannya waktu, bakteri dapat beradaptasi dengan antibiotik yang diberikan secara berlebihan sehingga lama-kelamaan kebal terhadap antibiotik. Parahnya, kondisi resistansi bakteri tersebut dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan bakteri di tubuh seseorang sudah resistan terhadap suatu antibiotik, tentu akan lebih sulit untuk menentukan pilihan antibiotik yang tepat untuk itu, penting sekali untuk mengonsumsi antibiotik sesuai anjuran dan dalam pengawasan dokter. Selain karena harus sesuai indikasi, penggunaan antibiotik dapat menimbulkan efek samping dan reaksi alergi pada samping antibiotik meliputi muntah, mual, diare, perut kembung, nyeri perut, dan turunnya nafsu makan. Pada perempuan, dapat timbul keluhan seperti gatal dan sensasi terbakar di area vagina, serta keluarnya cairan vagina abnormal dan nyeri saat berhubungan beberapa orang bisa juga terjadi reaksi alergi, seperti ruam gatal, batuk, napas berbunyi mengi, hingga gangguan pernapasan. Selain itu, penggunaan antibiotik dapat memengaruhi kerja obat lain di dalam tubuh, contohnya pil antibiotik harus diminum sesuai anjuran atau resep dokter. Aturan pakainya pun wajib diperhatikan secara saksama dan tepat. Tepat dosis, tepat frekuensi, dan tepat waktu. Ketika sakit, selain mengonsumsi antibiotik, Anda juga dapat mencegah penyebaran penyakit dengan menjaga kebersihan diri, seperti mandi dan rutin mencuci tangan menggunakan sabun.[RS/ RH]AntibiotikobatResistansi Antibiotik
Untuk mengobati infeksi bakteri, biasanya dokter akan meresepkan antibiotik. Meski demikian, antibiotik merupakan golongan obat beragam. Oleh karenanya, fungsi yang dimiliki oleh masing-masing golongan antibiotik pun berbeda. Nah, agar kamu lebih memahami golongan antibiotik, yuk simak ulasan lengkapnya di bawah ini. Apa itu antibiotik? Antibiotik adalah obat yang dapat melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotik dapat membantu menghentikan perkembangan bakteri atau menghancurkan bakteri. Perlu kamu tahu bahwa sebelum bakteri berkembang biak dan menimbulkan gejala, sistem kekebalan dapat membantu membunuh bakteri. Sel darah putih atau leukosit dapat menyerang bakteri berbahaya, jika gejala muncul sistem kekebalan dapat mengatasi serta melawan infeksi. Akan tetapi, terkadang jumlah bakteri berbahaya dapat berlebihan, sehingga sistem kekebalan tidak mampu untuk melawan semua bakteri. Nah, pada kasus ini antibiotik dapat membantu. Bagaimana cara antibiotik bekerja? Terdapat beberapa jenis antibiotik. Jenis antibiotik tersebut dapat bekerja melalui salah satu dari dua cara berikut ini. Antibiotik bakterisida, seperti penicillin dapat membantu membunuh bakteri dengan cara mengganggu pembentukan dinding sel bakteri ataupun isi selnyaAntibiotik bakteriostatik, ini dapat membantu menghentikan bakteri berkembang biak Apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan golongan antibiotik dan contohnya? Ada beberapa bakteri yang hidup di dalam tubuh dan tidak berbahaya. Namun tetap saja, bakteri dapat menginfeksi hampir semua organ. Antibiotik dapat membantu untuk menangani infeksi bakteri. Dikutip dari Web MD, adapun beberapa jenis infeksi yang dapat diobati dengan antibiotik di antaranya adalah Beberapa infeksi telinga dan sinusInfeksi gigiInfeksi kulitMeningitis pembengkakan pada otak dan sumsum tulang belakangStrep throatInfeksi kandung kemih dan ginjalPneumonia akibat bakteriBatuk rejan Perlu dicatat bahwa hanya infeksi bakteri yang dapat ditangani oleh antibiotik. Pilek, flu, dan beberapa infeksi bronkitis, sakit tenggorokan tertentu, dan flu perut disebabkan oleh virus. Antibiotik tidak efektif untuk melawan infeksi virus. Beberapa jenis antibiotik dapat bekerja pada berbagai jenis bakteri, ini dikenal sebagai “broad-spectrum” atau spektrum luas. Sedangkan, sebagian lainnya hanya menargetkan bakteri tertentu saja, ini dikenal dengan “narrow-spectrum” atau spektrum sempit. Mengenal golongan antibiotik Ada berbagai macam antibiotik yang tesedia dalam berbagai merek berbeda. Antibiotik biasanya digolongkan berdasarkan cara kerjanya. Yang perlu diketahui adalah, setiap jenis antibiotik hanya bekerja melawan jenis bakteri atau parasit tertentu. Dilansir dari berbagai sumber, berikut adalah penggolongan antibiotik yang perlu kamu tahu. Baca juga Wajib Tahu! Ini Alasan Penting Mengapa Antibiotik Harus Dihabiskan 1. Penicillin Golongan antibiotik dan contohnya yang pertama adalah penicillin. Penicilin adalah salah satu jenis antibiotik turunan Penicilium fungi. Antibiotik jenis ini biasanya menjadi pilihan pertama dokter untuk mengobati beberapa penyakit yang di sebabkan oleh bakteri. Penicillin bekerja dengan cara mencegah ikatan silang rantai asam amino di dinding sel bakteri. Ini tidak memengaruhi bakteri yang sudah ada sebelumnya, tetapi sel bakteri yang baru diproduksi dapat memiliki dinding sel yang lemah sehingga mudah pecah. Beberapa contoh penicillin termasuk AmoxicillinAmpicillinPenicillin GPenicillin V 2. Tetracycline Penggolongan antibiotik yang kedua adalah tetracycline. Tetracycline adalah golongan antibiotik yang digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme rentan seperti bakteri gram positif dan negatif, klamidia, mikoplasmata, protozoa, serta riketsia. Tetracycline bekerja dengan cara menghambat sintesis protein dalam RNA mikroba, yakni molekul penting yang bertindak sebagai pembawa pesan DNA. Obat ini merupakan jenis antibiotik bakteriostatik, yang dapat berarti mencegah bakteri berkembang biak. Jenis antibiotik ini digunakan untuk mengobati infeksi seperti infeksi pernapasan, kulit, dan kelamin. Tak hanya itu, tetracycline juga dapat digunakan untuk mengobati infeksi yang tidak biasa, seperti penyakit Lyme, malaria, antraks, atau bahkan kolera. Beberapa contoh tetracycline termasuk DoxycyclineMinocyclineTetracycline 3. Chepalosporin Selanjutnya, golongan antibiotik yang perlu kamu ketahui yakni chepalosporin. Chepalosporin bersifat bakterisidia membunuh bakteri dan bekerja dengan cara yang mirip penicillin. Obat ini bekerja dengan cara mengikat dan memblokir aktivitas enzim yang bertanggung jawab untuk membuat peptidoglikan, yakni komponen penting dari dinding sel bakteri. Chepalosporin disebut sebagai antibiotik spektrum luas broad-spectrum karena efektif melawan berbagai jenis bakteri. Antibiotik golongan ini dapat membantu untuk mengobati berbagai infeksi, seperti radang tenggorokan, infeksi kulit, hingga infeksi serius seperti meningitis. Beberapa contoh chepalosporin termasuk CefiximeCefpodoximeCefuroximeCephalexin Baca juga Obat Ceftriaxone Kenali Manfaat, Dosis serta Efek Samping Penggunaannya 4. Quinolon Quinolone atau yang juga dikenal sebagai fluoroquinolone merupakan golongan antibiotik aktif untuk melawan bakteri. Antibiotik ini dapat mengobati berbagai infeksi, termasuk infeksi mata, pneumonia, infeksi kulit, sinus, sendi, saluran kencing atau ginekologi dll. Dikutip dari quinolon dapat memengaruhi fungsi dua enzim yang diproduksi oleh bakteri, sehingga tidak dapat memperbaiki DNA atau membantu pembuatan DNA bakteri. Beberapa contoh quinolone termasuk CiprofloxacinLevofloxacinMoxifloxacin 5. Lincomycin Golongan antibiotik ini digunakan untuk mengobati infeksi bakteri yang parah di mana seseorang tidak bisa mengonsumsi antibiotik penicillin. Lincomycin tidak dapat digunakan untuk mengobati infeksi virus, seperti pilek atau flu. Beberapa contoh lincomycin termasuk LincomycinClindamycin 6. Makrolid Penggolongan antibiotik selanjutnya yang perlu kamu tahu adalah makrolid. Makrolid adalah antibiotik dengan spektrum aktivitas yang luas yang dapat melawan banyak bakteri gram positif. Makrolid bekerja dengan cara menghambat sintesis protein dalam bakteri. Pada dasarnya obat ini bersifat bakteriostatik namun dapat menjadi bakterisida pada tingkat konsentrasi tinggi atau tergantung pada jenis mikroorganisme. Makrolid dapat digunakan secara luas untuk mengobati infeksi ringan hingga sedang, seperti infeksi saluran pernapasan, telinga, kulit, dan infeksi menular seksual. Jenis ini sangat berguna bagi orang yang alergi terhadap beta-laktam. Beberapa contoh makrolid termasuk AzithromycinClarithromycinErythromycin 7. Sulfonamide Sulfonamide sulfonamida merupakan golongan antibiotik yang secara teknis tidak membunuh bakteri seperti antibiotik lainnya. Golongan ini bersifat bakteriostatik, yang berperan menghentikan pertumbuhan bakteri. Sulfonamide sangat baik digunakan sebagai perawatan topikal untuk mengobati luka bakar dan infeksi vagina maupun mata serta mengobati infeksi saluran kemih dan diare. Beberapa contoh sulfonamide termasuk SulfacetamideSulfadiazineSulfamethoxazole-Trimethoprim 8. Glycopeptide Antibiotik golongan ini adalah jenis antibiotik yang bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan dinding sel bakteri dengan cara menghambat sintetis peptidoglikan. Antibiotik jenis ini biasanya digunakan untuk mengobati infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri MRSA, Streptococcus, atau Enterococcus. Beberapa penyakit yang dapat diobati di antaranya adalah endokarditis, pneumonia, hingga infeksi kulit yang parah. Beberapa contoh glycopeptide termasuk DalbavancinOritavancinTeicoplaninTelavancin 9. Aminoglikosida Aminoglikosida merupakan jenis antibiotik yang digunakan dalam pengobatan infeksi basil gram negatif aerobik. Meskipun demikian, golongan ini juga efektif dalam melawan bakteri lain seperti Staphylococci dan Mycobacterium tuberculosis. Antibiotik jenis ini kurang efektif jika dikonsumsi dengan mulut, oleh karenanya aminoglikosida seringkali diberikan dalam bentuk injeksi oleh tenaga kesehatan. Beberapa contoh aminoglikosida termasuk TobramycinGentamicinParomomycinAmikacinNeomycinPlazomicin 10. Carbapenem Penggolongan antibiotik antibiotik dan contohnya yang perlu kamu ketahui selanjutnya adalah carbapenem. Golongan ini bekerja dengan cara menghambat sintetis dinding sel dan mengganggu pembentukan dinding sel. Beberapa penyakit yang dapat diobati oleh antibiotik ini di antaranya adalah infekssi yang sedang sampai yang membahayakan jiwa. Beberapa contoh carbapenem termasuk DoripenemIminepenemMeropenemErtapenem Adakah efek samping dari antibiotik? Melansir laman Medical News Today, beberapa efek samping dari antibiotik di antaranya adalah DiareMualMuntahTimbulnya ruamSakit perut Sedangkan, efek samping yang kurang umum yakni Pembentukan batu ginjalPembekuan darahSensitivitas terhadap sinar matahari Maka dari itu, agar terhindar dari efek samping tersebut janganlah konsumsi antibiotik secara sembarangan. Sebaikya, berkonsultasilah terlebih dahulu pada dokter sebelum memutuskan untuk menggunakan antibiotik. Dokter akan memberikan petunjuk mengenai dosis dan cara mengonsumsinya dengan tepat untuk menghindari efek samping antibiotik. Resistensi antibiotik Antibiotik dapat membantu mengatasi infeksi bakteri jika digunakan dengan tepat dan hati-hati. Namun, penggunaan secara berlebihan terhadap antibiotik dapat menyebabkan resistensi bakteri. Sebab, bakteri dapat beradaptasi dari waktu ke waktu. Hal tersebut dapat menyebabkan bakteri berubah sehingga antibiotik tidak dapat lagi bekerja secara efektif pada bakteri. Maka dari itu, penggunaan antibiotik secara tepat perlu untuk diperhatikan, misalnya saja dengan cara Selalu berkonsultasi terlebih dahulu pada dokterJangan konsumsi antibiotik untuk menangani infeksi virusKonsumsi antibiotik hanya jika diresepkan oleh dokterSelalu ikuti instruksi yang diberikan oleh dokterJangan melewatkan dosis Interaksi antibiotik Jika kamu sedang mengonsumsi antibiotik, sebaiknya janganlah mengonsumsi obat lain atau pengobatan herbal tanpa berbicara terlebih dahulu pada dokter. Sebab, obat-obatan tertentu mungkin saja dapat berinteraksi dengan antibiotik. Bagaimana cara tepat menggunakan antibiotik? Antibiotik dapat dikonsumsi dengan cara diminum, diberikan dalam bentuk suntikan, atau dengan mengoleskannya secara langsung ke bagian tubuh yang terinfeksi. Kebanyakan antibiotik dapat mulai melawan infeksi dalam beberapa jam. Oleh karena itu, sebaiknya selesaikan seluruh pengobatan untuk mencegah terjadinya infeksi kembali. Hal tersebut dikarenakan menghentikan pengobatan lebih cepat dapat meningkatkan risiko bakteri menjadi lebih kebal dalam pengobatan di masa mendatang. Tak hanya itu, ikuti selalu instruksi dokter dengan benar agar obat menjadi efektif. Hindari produk susu saat mengonsumsi tetracyclines, karena dapat mengganggu penyerapan obat. Adakah alergi dari antibiotik? Sebagian orang mungkin saja tidak cocok dengan pengobatan antibiotik. Beberapa orang mungkin saja mengalami reaksi alergi terhadap antibiotik, terutama penicillin. Reaksi alergi yang dapat ditimbulkan di antaranya adalah ruam, pembengkakan pada wajah, hingga kesulitan bernapas. Seseorang yang memiliki alergi terhadap antibiotik harus memberi tahu dokter ataupun apoteker. Selain itu, seseorang yang memiliki kondisi terkait dengan fungsi hati atau ginjal juga harus berhati-hati ketika menggunakan antibiotik. Sebab, kondisi tersebut dapat memengaruhi jenis antibiotik yang dapat digunakan serta dosis yang akan diterima. Di sisi lain, ibu hamil atau ibu menyusui juga harus berbicara terlebih dahulu pada dokter sebelum memutuskan untuk mengonsumsi antibiotik. Itulah informasi mengenai golongan antibiotik yang perlu kamu tahu. Antibiotik tidak boleh digunakan sembarangan. Maka dari itu, pastikan terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter ya. Jika kamu memiliki pertanyaan lebih lanjut seputar golongan antibiotik dan contohnya atau masing-masing kegunaan dari antibiotik, kamu juga dapat berkonsultasi langsung dengan dokter. Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!
antibiotik merupakan salah satu komponen penting dalam dunia kedokteran